Kalau dulu butuh kerja ekstra untuk menggerakan orang untuk ramai-ramai turun ke jalan, kini berbeda cerita. Dengan adanya fitur tagar atau hashtags isu akan mudah digulirkan ke timeline pengguna skala Nasional maupun Internasional. Media sosial mengubah medium aktivisme untuk menarik partisipan, bagaimana tidak hanya dengan jari jemari dan dibekali ratusan karakter yang bisa diketik, kita sudah dapat “berpartisipasi” untuk suatu isu.

Sejarah panjang aktivisme digital dimulai dari munculnya perangkat komunikasi dan computer yang massif digunakan pada tahun 90-an, sekarang dengan adanya Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan Blog aktivisme ini seperti diberi lampu hijau untuk jalan terus tanpa henti.

Jika dilihat dalam ruang yang lebih sempit, aktivisme digital ini memang bertujuan untuk kampanye menyuarakan perubahan sosial maupun politik lewat petisi atau donasi dengan menunjukkan simpati dan bertujuan membentuk opini publik. Tagar #KoinUntukPrita dan #KoinUntukAustralia yang sempat viral di Twitter ini menujukkan mobilisasi massa lewat media sosial lebih efektif ketimbang menggunakan medium lain. Tagar bisa menjadi alat yang ampuh untuk mengumpulkan solidaritas massa karena merupakan suatu simbol sederhana yang mudah melekat di benak orang-orang.

Sampai di sini kita melihat sisi baik dari Aktivisme digital, namun di lain sisi lain, agenda aktivisme ini melahirkan paradoks baru; esensi atau sensasi. Meski aktivisme tagar sering ditemukan di media sosial, banyak partisipan yang dinilai hanya ikut-ikutan tanpa tahu dan mengerti tujuan aktivisme ini akan bermuara kemana. Artinya, orang yang memublikasikan konten bertagar tertentu hanya sekadar meramaikan aktivitas orang-orang di timeline atau sesuatu yang sedang trending dan menyisakan kesan panjat sosial, SJW karbitan dan ngajak mutualan.

Media sosial sebagai budaya populer kini tak hanya dipandang sebagai sarana berekspresi namun pengaruhnya amat besar bagi perubahan arah sosial politik suatu negara. Pentingnya bersikap skeptis akan suatu hal baru dirasa penting bagi semua orang yang bersentuhan langsung dengan media sosial jika tidak mau berakhir pada cyber bullying, karena konon perundungan di media sosial begitu mengerikan jika salah-salah mencuitkan suatu pendapat tanpa mengetahui latar belakang isu yang berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *