Manusia merupakan makhluk sosial dengan segudang kompleksitasnya. Terlebih saat ini, pengaruh media sosial sudah mendarah daging, apalagi untuk orang-orang yang ‘nyari makan’ lewat media sosial. Yang namanya makhluk sosial, pasti membutuhkan manusia lain untuk hidup seimbang. Tapi ternyata sosial media bukan hanya jadi sarana komunikasi massa, lebih dari itu, nyari ribut misalnya.

Banyak dari kita yang mungkin keranjingan mengomentari sesuatu di media sosial. Seperti pilih mie goreng atau mie rebus, usia ideal perempuan untuk menikah, ibu rumah tangga atau ibu bekerja, nikah pake pesta atau cuma sekedar di KUA. Hal-hal yang seperti ini biasanya banjir komentar entah dengan komentar mengapresiasi sampai komentar negatif cenderung memantik pertikaian.

Pada akhirnya para komentator digital ini akan perang kebenaran, yang sebenarnya relatif. Karena manusia memiliki ego, jadi debat di media sosial hanya jadi ajang ‘bener gak bener harus tetep nge-gas’ dan tidak menghasilkan apapun kecuali menghabiskan waktu. Istilah ‘yang menang jadi api, yang kalah jadi abu’ adalah analogi paling cocok untuk menyimpulkan debat kusir di media sosial. Lebih baik ikut lomba debat bukan?

Selain itu, banyak dari para komentator ini sebenarnya hanya berbekal satu sudut pandang, tanpa mau tahu yang lain tapi tetap merasa paling benar. Selamat, Anda berhasil memberi makan ego. Menurut pengalaman, saat mengikuti debat kusir di salah satu akun Instagram, ketika argumen yang dituangkan akan ada perasaan menjadi seorang jenius dan merasa punya priviles untuk mem-bully komentator lain yang kalah berargumen. Ini adalah puncak kenikmatan menjadi pemenang debat tanpa pengumuman.

Sialnya, komentator digital ini banyak yang tidak memiliki nyali besar, hingga memutuskan membuat akun alter hanya untuk ikut ajang debat kusir. Tujuannya tidak lain adalah agar tidak mengotori notifikasi akun utama dan kalau kalah telak dalam debat, akun asli tetap aman tak terjamah hinaan, pasalnya netizen ini adalah pelacak ulung.

Biarpun risiko perundungan dalam debat kusir ini mengintai, nampaknya debat kusir ini akan tetap berjalan seiring makin banyaknya orang-orang yang punya hobi baru; ngomentarin urusan hidup orang yang sebenarnya tidak perlu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *