Apa yang sering kamu unggah di media sosial? Biasanya kita mengunggah apa yang kita senangi seperti hobi, video kucing lucu sampai sambatan kita mengutuk orang-orang yang merokok sambil nyetir motor. Tak bisa dipungkiri, keuntungan adanya internet dan media sosial adalah percepatan informasi yang bisa didapatkan oleh siapa saja. Dari media sosial pula banyak hal yang dulunya terkesan ‘sepele’ dan ‘ya elah gitu doang’ menjadi tidak lagi sesepele itu.

Beberapa tahun belakangan ini bisa dikatakan sebagai proses penetrasi bagi individu atau komunitas yang gelisah dengan realitas sosial yang semakin menjengahkan. Apa saja misalnya?

Dahulu, pelecehan di ruang publik hingga di ruang domestik adalah hal yang tabu dibicarakan. Tapi kini, seperti magis media sosial menjadi wadah mereka untuk menyuarakan keresahan dan membangun kesadaran bersama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak di ranah publik maupun domestik. Bukan tidak mungkin laki-laki tidak mendapatkan pelecehan, jangan dulu berprasangka terhadap tulisan ini, siapapun bisa menjadi korban kekerasan dan pelecehan, maka dari itu banyak pihak berkolaborasi memberikan pengetahuan baru bagi siapapun yang mau menerimanya.

Tak hanya itu, dari sekat-sekat meja kerja juga tersimpan banyak keluhan para pekerja. Media sosial seperti Instagram dan Twitter biasanya dijadikan sarana sambat para pekerja yang takut meninggal saat sedang bekerja karena overwork.

Banyak aktivitas komunitas yang secara bertahap berhasil membuat “orang-orang sadar” pentingnya hidup bertata krama. Contohnya saja komunitas pejalan kaki, bagaimana mereka menyuarakan keresahan pejalan kaki yang masih saja was-was takut bertemu malaikat maut saat di pinggir jalan karena ditabrak oleh pengendara yang merampas hak dasar pejalan kaki yaitu trotoar.

Tidak berhenti sampai di situ, kesehatan mental bahkan sudah menggaung dari awal tahun 2000-an di dunia barat dan gemanya baru terasa sekarang di lini masa pengguna media sosial di Indonesia. Siapa sangka kini penyadaran itu semakin masif dilakukan yang berangkat dengan misi sederhana; membuat masyarakat memiliki pengetahuan dan melawan mitos yang usang.

Media sosial memang menjadi wahana baru bagi suara-suara yang dulu tidak terdengar hingga muncul kepermukaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *