Dinamika di media sosial memang tidak akan pernah berhenti dan semua platform media sosial mempunyai karakternya masing-masing. Apalagi YouTube yang memang lebih dari tayangan di televisi, hal tersebutlah yang membuat orang berbondong-bondong punya channel YouTube. Karena YouTube membebaskan siapapun untuk berseliweran dan tidak ada batasan penampilan untuk tampil dalam sebuah video di YouTube.

Tak pelak industri digital membuka keran rezeki untuk sebagian orang yang bermain di YouTube untuk mengantongi ‘gaji’ dari ads-nya. Hal ini positif kok untuk membuat orang jadi mandiri secara ekonomi dengan mengolah ide kreatif yang dituangkan jadi konten video YouTube. Namun, siapa sangka perubahan yang begitu cepat membuat para konten kreator ini harus membuat ide kreatif terus-menerus.

Berputarnya tren tidak sebanding dengan daya pikir kritis ini jadi bikin YouTuber terkesan ikut-ikutan. Masih hangat nampaknya tren nge-prank ojol dan orang-orang yang bekerja di jalanan dijadikan objek konten mereka. Apa yang salah dari ini? Tidak ada yang salah karena jualan simpati di Indonesia adalah dagangan yang cepat laku.

Tren ini dikritik banyak pihak karena hanya mementingkan reach, engagement dan adsense lalu mengenyampingkan nilai empati dan moral yang rasanya semakin hari semakin terkikis. Konten yang hanya menjual ‘keharuan dan kesedihan orang lain’ sekarang ini menjadi konten yang menjengahkan bahkan membuat orang lain geram. Bagaimana tidak, sok-sok nge-prank jadi pemulung atau pengemis cuma buat jadi candaan, tanpa melihat realitas yang ada; tidak semua pemulung dan pengemis mau melakukan pekerjaan itu.

Pada awalnya, social experiment dibuat oleh para sosiolog dan psikolog untuk menilai secara objektif perilaku manusia malah disalah artikan menjadi konten video yang ‘gak banget’ oleh para konten kreator yang mungkin kehabisan ide tapi harus tetap upload demi ‘gaji adsanse’.

Alih-alih membuat konten dengan niat menghibur dan menginspirasi malah berbalik mendapatkan cibiran dan sindiran para penontonnya. Alhasil malah jadi boomerang yang menyudutkan para kreatornya sendiri, eh tapi banyak juga yang goals nya buat sekedar sensasi, please gak lucu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *