Ada anggapan bahwa media sosial itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, apa benar?

Komunikasi dapat berjalan jika terjadi secara dua arah atau lebih secara langsung maupun menggunakan media lain seperti surat menyurat, SMS, aplikasi chatting dan lain sebagainya. Dulu sebelum ada teknologi media komunikasi, jaring komunikasi terbatas pada telegram dan surat pos. kita harus menunggu beberapa hari bahkan bulan untuk mendapatkan pesan balasan. Kini, semua itu berubah. Kita bisa mendapatkan kabar dari bagian dunia yang lain hanya dalam hitungan detik saja, tapi hal itu harus dibayar dengan harga yang besar; berubahnya pola komunikasi massa.

Secara tidak sadar, kita dengan mudahnya mengumbar emosi yang kita rasakan saat itu juga, lain hal dengan dulu kita hanya mengungkapkan hal-hal penting. Menurut kalian apa contohnya?

Istilah no mention adalah pola yang dilakukan sebagian orang untuk menuangkan emosi sedih, marah atau senang kepada seseorang yang dimaksudkan melalui media sosial. Namun, no mention ini dapat menimbulkan asumsi berbeda jika orang lain yang membacanya dan menjadi boomerang bagi diri sendiri. Bagaimana tidak, ketika mengumbar sindiran atau kemarahan di media sosial tidak menutup kemungkinan pengguna lain akan merasa ‘tersindir’ atau ‘kayaknya status dan story ini buat gue deh’ padahal maksud si pembuat status tidak seperti itu. Biasanya, jika konflik semakin meruncing pengguna akan meng-unfollow atau mem-block temannya sendiri.

Untuk memfasilitasi penggunanya, Instagram memiliki fitur close friend yang memberikan ruang bagi pengguna untuk memfilter stories mana saja yang mau diperlihatkan kepada followers, selain itu ada fitur pembatasan komentar yang bisa membatasi jari-jari jahat warganet.

Yang lucu lagi dalam mengungkapkan kesedihan biasanya kita membagi stories dengan layar hitam dan backsound lagu yang mewakili perasaan kita saat itu. Tidak ada yang salah dengan pola komunikasi massa di media sosial sekarang ini, namun perubahan itu memberi dampak besar bagi para pengguna; tingkat stress meningkat karena ketiadaan sarana meluapkan emosi dan lebih memilih memendam, sekedar membuat stories dan status yang berperan sebagai pengalihan emosi yang sesungguhnya.

Kita terpaksa atau ‘tidak enak’ untuk menegur langsung dan berdebat ketika ada konflik dengan teman atau kerabat, jadi sarana satu-satunya hanyalah lewat media sosial. Tapi, dengan cara seperti itu, komunikasi tidak akan berjalan dan dikatakan gagal untuk menyelesaikan permasalahan.

Media sosial memang penting di peradaban internet ini, namun jangan sampai komunikasi konvensional jadi terhambat dan membuat permasalahan baru dalam hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *