Siasat Para Brand Di tengah COVID-19

COVID-19 atau lebih dikenal dengan virus Corona telah menjadi isu di belahan bumi manapun dan tentunya berdampak pada perekonomian dunia. Gencarnya himbauan untuk berdiam diri di rumah demi mengurangi resiko penyebaran virus mematikan ini tentu membuat para pelaku usaha bergeliat memutar otak untuk berjuang mempertahankan bisnis yang sebagian besar diwakili oleh brand mereka.

Minimnya kegiatan luar ruangan tentu menjadi kendala bagi beberapa brand karena adanya pergeseran perilaku belanja masyarakat dari offline ke online.

Menurut research dari Gartner, selama terjadinya Covid-19, waktu yang dihabiskan secara online oleh masyarakat China melonjak hingga 20% dikarenakan masyarakat menghabiskan waktu dirumah, dengan rincian kegiatan seperti; bermain game, naik 44% antara Januari dan Februari 2020, menonton short video naik 14%, membaca informasi online naik 14%.

Lalu apa saja yang dilakukan brand-brand ini untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi pasar saat ini di dunia maya?

Meningkatkan kesadaran

Sudah pasti yang namanya brand akan berusaha mendongkrak penjualan apapun kondisinya, namun alih-alih memberikan diskon, Estée Lauder justru memuat konten yang berisi himbauan kepada konsumennya memanfaatkan situs microblogging Weibo untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap virus COVID-19 dengan meluncurkan key message ‘We Can Win This Fight’. Hingga kini konten yang berbentuk video tersebut telah dilihat  sebanyak 61 juta kali dan telah mendapat 328.000  komentar.

Selain itu, Estée Lauder juga telah membuat campaign ‘Envy  Me’ yaitu mengajak users untuk meng-upload foto selfie nya  menggunakan lipstick Estée Lauder, dengan  pesan dari  campaign yakni untuk tidak tertekan selama berada dirumah  dengan meningkatkan optimisme melalui penggunaan  lipstick.

Jemput bola di dunia maya

Cara lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan awareness terhadap brand dalam masa krisis selama persebaran virus COVID-19 adalah mengalikan fungsi offline store ke online. Beberapa brand mulai memanfaatkan layanan aplikasi chat untuk menjamah target audience mereka tanpa harus keluar rumah.

Beberapa High- End brand seperti Louis Vuitton, Dior, Prada dan lainnya meresmikan online pop-up store di aplikasi  WeChat, dimana konsumen dapat melakukan live chat untuk konsultasi dan promosi sebelum membeli.

Cara ini memang bukan hal baru, namun untuk saat ini, cara berbelanja secara online tanpa mengenyampingkan pelayanan yang baik, rasanya menjadi solusi ampuh.

Adu kreatif

Beberapa industri memang sulit merepresentasikan produk mereka secara online karena feel-nya gak dapet. Sebut saja industri otomotif. Apakah kamu pernah membeli kendaraan bermotor tanpa melihat unitnya dengan detail? Bisa dipastikan hampir gak ada yang pernah melakukannya. Untung lah di era digital saat ini dengan beragamnya platform dapat membantu para brand dan konsumen mereka tetap up to date. Kreatif adalah kuncinya.

Contohnya adalah pabrikan mobil asal Jerman, Mercedez Benz yang menjalankan  campaign melalui aplikasi WeChat yang memungkinkan  user dapat melihat tampilan interior mobil SUV GLB secara 360 derajat.

Berikan hiburan

Dengan diberlakukannya lockdown di beberapa negara tentu membuat jenuh masyarakat atau para target audience dari sebuah brand. Tidak sedikit yang merasa jika konten berbentuk himbauan mungkin basi meski berguna.

Beberapa brand seperti AloDokter dan Nike punya cara unik untuk memberikan himbauan sekaligus menghibur target audience mereka. Tiktok menjadi solusi yang mereka pilih dengan mengunggah beberapa konten seru tanpa menghilangkan pesan positif seperti cara mencuci tangan yang baik dikemas dengan gerakan-gerakan dance yang seru, serta video dari beberapa atlet yang memposting kegiatan olahraga mereka meski tidak bisa kemana-mana.

Cara ini cukup ampuh dan lumayan menjadi viral beberapa waktu lalu karena selain informatif dan inspiratif, video tersebut juga menghibur.

Transparasi

Untuk meningkatkan engagement bukan hal yang baru bagi beberapa brand memposting video behind the scene mereka. Beberapa konsumen juga menyukai konten yang lebih humanis dengan memberikan gambaran secara umum tentang bagaimana sebuah produk diproduksi dan didistribusikan.

Brand seperti Dettol beberapa waktu lalu sempat mengunggah sebuah foto melalui platform Weibo yang menggambarkan cara perusahaan tersebut melayani di tengah lonjakan permintaan pasar. Maklum, sebagai salah satu produk anti-septic Dettol cukup dicari belakangan ini.

Konten tersebut memang cukup menjawab rasa penasaran konsumen yang mungkin dalam beberapa waktu terakhir kesulitan mencari Dettol karena besarnya daya beli masyarakat hingga menciptakan kelangkaan.

Jika kamu salah satu pelaku usaha dan ingin brand kamu tetap eksis meski kondisi dan situasi sedang sulit karena adanya wabah Corona, mungkin cara-cara diatas bisa menjadi refrensi kamu. Stay safe, keep your distance ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close