Sering lihat brand campaign yang terlihat nyeleneh bahkan gak masuk akal? Campaign sendiri dipersiapkan sebagai komunikasi dengan publik dan menarik minat mereka untuk menggunakan brand tersebut. Namun, tidak jarang kita menemukan brand campaign yang bikin kita mikir sampai mancing emosi.

H&M

Seperti H&M yang tahun lalu memproduksi campaign baju untuk segmen anak-anak. Kira-kira apa yang salah dari campaign ini sampai-sampai dapat kecaman dari warga dunia?

Yap! Salah pemilihan wardrobe yang dikenakan sang model. H&M memvisualkan dua anak yang memakai sweat-shirt bertemakan dunia fauna. Alih-alih memperkenalkan kids-outfit, H&M malah membangun persepsi negatif kepada audiens. Salah satu anak yang menjadi model memakai sweat-shirt bertuliskan “Coolest Monkey in the Jungle.” malah mengundang angkara murka publik karena bertendensi rasis. Bagaimana tidak, model anak berdarah Afrika-Amerika ini tentu berkulit hitam. Dimana kampanye anti-rasis digaugkan banyak pihak, tanpa tendeng aling-aling H&M malah bikin campaign yang dinilai rasis.

Nissin Kelapa Ijo

Warganet Indonesia memang dikenal sangat reaktif, hal ini dimanfaatkan sebagian brand untuk memulai campaign mereka dengan menyasar pengguna media sosial yang gampang terenyuh. Masih ingat huru-hara hilangnya Jojo? Sebuah akun menarasikan hilangnya Jojo dengan memunculkan tokoh mama Nancy sebagai orangtua yang kehilangan anaknya. Tentu saja ini akan membuat orang-orang bersimpati membantu mencari Jojo dengan menyebarkan informasi tersebut. Setelah viral hingga jadi trending di Twitter, warga Twitter dibuat geleng-geleng kepala karena ternyata ini adalah buah ide campaign Nissin Kelapa Ijo. Banyak komentar negatif justru didapat oleh Nissin karena dinilai memanfaatkan simpati dan empati warganet demi kepentingan campaign mereka.

McDonald’s

Pada tahun 2012, McDonald’s membuat campaign di Twitter dengan hashtag #McDstories. Pelanggan dipersilakan untuk menceritakan pengalaman mereka saat di McDonald’s. Jika diteliti, tidak ada yang salah dengan campaign, tapi ekspektasi mendapatkan cerita menarik dari audiens tentang kehangatan berkumpul dengan keluarga atau teman di McDonald’s malah menjadi boomerang bagi McDonald’s itu sendiri. McDonald’s harus kecewa karena dengan hashtag #McDstories digunakan orang-orang untuk bercerita tentang dampak mengkonsumsi makanan di McDonald’s dan terkesan memberi celah bagi kompetitor untuk menjatuhkan brand itu sendiri.

Kreativitas memang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, namun saat berbicara brand campaign, konseptor dan eksekutor campaign dipaksa untuk melihat batasan-batasan itu agar campaign yang dimunculkan tidak menjadi backfired bagi brand mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close