Krisis Membaca atau Konten yang Basi?

Dewasa ini semua informasi bisa dengan mudah kita dapatkan. Mulai dari berita terbaru, gaya hidup, perkembangan teknologi hingga catatan sejarah dapat ditemukan dengan menulis keyword tertentu. Meskipun dengan sekarung kemudahan, berbanding terbalik dengan minat baca masyarakat Indonesia yang makin ke sini makin rendah. Banyak orang yang berasumsi baca buku filsafat, politik bahkan isu sosial merupakan bacaan “berat” dan cuma bikin ngantuk. Bisa juga alasan enggan membaca karena keterbatasan waktu, struktur bahasa yang membosankan dan terkesan clickbait.

Kini tren itu bergeser dari buku fisik yang kelihatannya tebal ke layar sebesar 5 inch saja agar kita tetap bisa membaca. Jadi ringan bukan? Tidak hanya bebannya, namun isi tulisan yang bisa kita baca juga ringan. Dengan Bahasa yang mengikuti perkembangan zaman, banyak situs menyediakan bacaan sekali selesai.

Ya, portal media saling berlomba untuk memenuhi insight pembacanya. Seperti Mojok.co yang menayangkan tulisan-tulisan serius namun dengan kemasan jenaka dan bisa dibaca oleh semua kalangan. Mojok adalah rumah untuk para komikus, kritikus yang suka nyari ide saat nongkrong di kakus.

Serupa dengan Mojok.co, banyak situs daring seperti voxpop.com, geotimes.com, idntimes.com hingga remotivi.or.id juga memberikan angin segar bagi para pengguna internet menyalurkan hobi membaca artikel yang aktual dengan konten guyon hingga sindiran sarkastik.

Dari situ kita bisa mempelajari pola para pembaca muda di Indonesia yang tidak mau “berpikir keras” ketika mengonsumsi bacaan. Terlebih kita sedang digempur berita hoax dari berbagai penjuru, melalui media satire lah para pembuat tulisan dan pengepul bacaan ini bermain. Bagaimana menyajikan bacaan yang bisa menstimulus masyarakat untuk tetap membaca dan berpikir kritis.

Banyak orang yang tidak hanya mencari bahan bacaan sebagai sumber referensi melainkan mencari sudut pandang baru atas suatu pemberitaan di media, namun juga mencari ragam tulisan yang sekiranya sependapat di tengah banyaknya perbedaan pendapat istilah unpopular opinion juga disajikan dalam tulisan yang ditayangkan di situs baca.

Di lain sisi, kita juga tidak bisa menuduh seluruh masyarakat Indonesia itu malas baca, masih banyak juga pembaca kritis yang menjadi pionir gerakan Indonesia membaca dengan Najwa Shihab sebagai duta literasi nasional. Itu sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia belum kehilangan minat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close