3 Alasan Brand Kamu di Unfollow di Media Sosial

Media sosial saat ini bukan hanya sekedar platform digital tempat orang-orang saling terhubung satu dengan lainnya, melainkan sebagai tempat berbagai merek atau brand memasarkan dan menjual produk mereka yang berupa barang atau jasa.

72% netizen bahkan menyukai kehadiran beberapa brand di media sosial untuk mendapatkan informasi mengenai produk, diskon atau promo, atau sekedar menyukai konten-konten menarik di dalamnya. Hal ini bahkan menjadi landasan dasar mereka untuk mengambil keputusan untuk membeli produk dai brand tersebut kedepannya.

Lalu, jika kehadiran brand begitu dielukan mengapa masih banyak brand yang justru ditinggalkan followersnya? dimana kesalahannya? Simak 3 alasan berikut ini yang bisa menjadi insight buat kalian para marketers digital.

1. Terlalu narsis mempromokan diri

Promosi disini bukan soal diskon lho ya. Promosi diri disini artinya merek atau brand terlalu posting tentang produk mereka.

45% followers akan berhenti mengikuti sebuah merek di media sosial karena terlalu “narsis” dengan intensitas yang tinggi untuk terus menerus memposting tentang product knowledge di bandingkan memuat postingan yang informatif atau fun.

Konten promosi sebuah merek memberikan value yang kecil kepada followers, jadi alih-alih melakukan itu, kamu harus membagikan konten-konten yang menurut mereka menghibur dan informatif.

2. Kurangnya sentuhan pribadi

Aku dia dan mereka tidak akan mau berbicara kepada mereka yang angkuh untuk sekedar memberikan feedback atas pertanyaan atau keluhan. Terdengar egois memang, tetapi ketahuilah bahwa setiap merek saat ini sedang berusaha melakukkan pendekatan sebagai manusia bukan lagi sebagai merek biasa.

Mungkin merek kamu sudah cukup dikenal tetapi bukan berarti merek kamu bisa mengabaikan followers kamu yang notabene ada konsumen dan calon konsumen merek kamu didalamnya.

Bangunlah komunikasi yang kuat dan hangat untuk terus mendapatkan loyalitas dari followers kamu. Perlu juga untuk memperhatikan kontend di setiap kanal-kanal media yang kamu gunakan baik itu Instagram, Youtube, Facebook, Twitter dan sebagainya.

3. Penggunaan tagar yang tidak tepat

Hashtag atau tagar telah keluar dari jalur tradisionalnya saat ini. Di awal Twitter, semakin banyak tagar semakin baik. dan saat ini telah berevolusi, ketika aturan praktisnya adalah tiga tagar. Orang-orang mengalami “mabuk tagar” dan tidak ingin melihat pos yang terlalu menjenuhkan dengan tagar yang tidak relevan dan terlalu banyak. Buatlah setiap tagar menggunakan 11 karakter atau kurang, dengan hanya satu atau dua di setiap tweet rasanya sudah cukup.

Permasalahannya, kredibilitas sebuah merek akan dipertanyakan saat mendompleng hashtag yang sedang ramai di media sosial. Mungkin merek tersebut akan mencakup jangkauan yang luas tetapi tidak akan mendapatkan banyak keterlibatan. So, jauh-jauh dari metode ini ya.

Dengan jutaan bisnis yang menggunakan media sosial untuk pemasaran, menjadikan pasar di dunia maya semakin kompetitif di luar sana untuk mendapatkan dan mempertahankan pengikut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close