Ketika keindahan media sosial terus dijejali berbagai konten, maka brand perlu bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk menembus minat para netizen. Menentukan segmentasi dan beriklan udah dilakuin, posting yang didukung, atau bekerja dengan influencer juga udah, tetapi apakah pesan dari brand kamu benar-benar berdampak, dan menciptakan koneksi dengan audiens?

Ada baiknya setiap brand perlu memperhatikan konten mereka, apakah sudah otentik atau belum. Bosan juga rasanya mendengar bualan dari influencer atau brand tertentu jika promosinya terlalu dibuat-buat.

Kami udah merangkum beberapa cara agar brand kamu gak kehilangan arah dan tetap menjadi otentik. Check this out!

1. Jujur dan adil

Mari kita jujur. Kita semua menemukan beberapa barang palsu dipasarkan secara online. Berita palsu, foto yang dipotret, kisah yang sepertinya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan dan lain sebagainya yang hanya berada diruang khayal kita

Konten yang mengembang di mana-mana. Orang-orang menangkap sampah online seperti ini dengan cukup cepat. Percayalah, audiens kini lebih pintar dari sebelumnya.

2. Lupakan sejenak “Call To Action”

Dalam hal konversi atau penjualan, coba mainkan permainan yang lebih cantik dengan media sosial sesekali. Buat keseimbangan antara pos yang dimaksudkan untuk mengkonversi atau menjual dengan cepat, dan pos yang dimaksudkan hanya untuk terhubung dengan audiens Anda.

Bohong rasanya jika audiens tidak bosan jika terus dicekoki barang dagangan di timeline mereka. Buatlah konten yang lebih menarik untuk membuat audiens kamu berinteraksi.

3. Salah? Ya maaf

Gak ada yang sempurna. Ya kalimat tersebut penegas sekaligus alat ngeles paling sempurna jika melakukan kesalahan.

Dalam memposting konten di media sosial gak jarang kita melakukan kesalahan, mulai dari typo, gambar yang tidak tepat atau pesan yang menyimpang. Dihapus? ya bisa, tapi ingat juga bahwa jejak digital begitu kejam, seketika kesalahan itu muncul dan diketahui maka akan selamanya terekam.

Terus gimana? dalam hal ini cobalah melakukan beberapa trik PR dengan cara menanggulangi krisis yang ada. Sekarang brand memiliki kekuatan untuk menanggapi pelanggan melalui media sosial, kemampuan untuk menemukan masalah dan membantu pelanggan.

So, jika hal buruk tersebut terjadi, simply mengakuinya, menggantinya atau memperbaikinya.

4. Clickbait sudah basi

Kami mengerti, perjuangan untuk membuktikan ROI dengan sosial adalah nyata dan jika kita tidak melakukannya, kita hanya “memainkan Instagram” dan kita semua tahu, itu bukanlah pemasaran sosial.

Jadi apa yang kita lakukan? Kami coba membuat konten yang memberi efek keterlibatan.

Dulu judul yang heboh sedikit menjadi primadona untuk sekedar mendapatkan click dan visit belaka (Gak banget). Kamu bisa di unfollow atau bahkan di block oleh followers kamu sendiri karena terlalu annoying dengan postingan yang terlalu purba.

Daripada membuat judul clickbait dan menjadi fakir like, baiknya coba untuk memikirkan lebih dalam membuat konten yang lebih menarik dan mampu mengundang keterlibatan audiens kamu.