Dalam proses pemungutan suara saat Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia, salah satu tahap yang dilalui adalah mencelupkan salah satu jari tangan kedalam wadah tinta ungu. Itu sebagai bukti bahwa telah menggunakan hak pilih pada Pemilu.

Umumnya, moment Pemilu kerap dianggap menjadi momok bagi para pelaku bisnis untuk melakukan promo karena takut gaungnya kalah akbar.

Campaign Tetap Lanjut

Faktanya, banyak juga brand dari berbagai macam industri di tanah air justru gencar melakukan campaign atau promo terhadap produknya di momen pemilu.

Berdasarkan pantauan Mediawave sejak Januari 2018, brand-brand dari industri logistik, industri e-commerce dan industri makanan justru merasa tidak terganggu hingga 17 April 2019 silam.

Bukannya menahan aktivasi campaign, masing-masing industri melihat peluang untuk memanfaatkan momen-momen besar yang terjadi sepanjang tahun politik, seperti promo khusus dalam rangka Asian Games 2018 dan Pemilu 2019.

Pada umumnya, tagar-tagar politik ini di boosting oleh pendukung kedua paslon dan buzzer bukan sepenuhnya dipakai oleh pengguna orisinil Twitter.

Tengok saja Shopee yang gencar memasarkan campaign #2019PilihShopee dan berhasil untuk beberapa hari bertengger di chart trending Twitter. Atau Alfmart yang tetap memberikan promo kepada pelanggannya yang telah melakukan pencoblosan dengan menunjukan jari yang sudah ditandai tinta ungu khas pemilu.

Untuk industri logistik terpantau aktif menjalankan campaign pada saat momen HUT brand. Campaign untuk industri E-commerce terpantau memanfaatkan kolaborasi dengan influencer. Sedangkan, Industri F & B yang sangat gencar lebih fokus mengadakan campaign promo, kolaborasi bersama komunitas dan peringatan hari-hari tertentu yang dijadikan momentum khusus.

Kesimpulannya, ketiga industri ini tidak menganggap tahun politik sebagai threat untuk campaign mereka, melainkan mereka memanfaatkan trend konten viral yang memang sedang booming dikalangan pengguna Twitter di Indonesia.